Detail Berita

Beranda / Berita / Detail Berita

Maulid Nabi, Momentum Menumbuhkan Cinta kepada Rasulullah dan Memuliakan Guru

Kamis, 27 Agustus 2026 14:03 WIB 0 Komentar 1

Lenteng, 26/06/2026 — Bersyukur atas rahmat terbesar yang diberikan Allah SWT kepada umat Islam dengan menghadirkan Nabi Muhammad SAW menjadi salah satu pesan utama dalam kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Momentum tersebut menjadi sarana untuk meningkatkan rasa syukur sekaligus menumbuhkan kecintaan umat kepada Rasulullah SAW melalui lantunan salawat dan keteladanan akhlak beliau.

Dalam tausiyahnya, Hj. Suciana Mukhtar, S.Pd.I, Pengasuh Pesantren Miftahul Huda Gapura, menegaskan bahwa salah satu bentuk rasa syukur sebagai umat Nabi Muhammad SAW adalah dengan terus menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah. Kecintaan tersebut, menurutnya, tidak cukup hanya diungkapkan melalui ucapan dan salawat, tetapi juga harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui akhlak yang mulia.

“Rasa cinta kepada Nabi diwujudkan dengan akhlak yang mulia,” tegasnya.

Lebih lanjut, Ibu Nyai asal Lenteng, Sumenep, tersebut mengajak para peserta untuk memahami kembali bagaimana membangun hubungan yang baik antara seorang murid atau penuntut ilmu dengan gurunya. Ia mengingatkan pentingnya adab dalam menuntut ilmu, termasuk menghormati dan memuliakan guru.

Dalam kitab Ta'limul Muta'allim karya Imam az-Zarnuji, penghormatan kepada guru tidak hanya ditujukan kepada guru secara langsung, tetapi juga mencakup kewajiban memuliakan anak-anak, keluarga, serta orang-orang yang memiliki hubungan dengan guru.

Adab tersebut, lanjutnya, hendaknya benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Seorang murid hendaknya tidak mendahului gurunya ketika berjalan maupun berkendara. Hal-hal sederhana seperti menyapa dan mengucapkan salam ketika berpapasan dengan guru juga merupakan bagian dari akhlak seorang penuntut ilmu.

“Sekarang banyak murid yang lupa kepada gurunya. Ketika berpapasan dengan guru, tidak menyapa dan tidak mengucapkan salam. Padahal guru di sekolah adalah orang tua intelektual dan karakter kita. Guru ngaji adalah guru agama, sekaligus mungkin menjadi guru ruhani kita,” ungkapnya.

Untuk memperkuat pentingnya adab kepada guru, Hj. Suciana juga mengisahkan perjalanan Hadrasyaikh KH. Hasyim Asy'ari ketika menuntut ilmu kepada Syaikhona Kholil Al-Bangkalani. Menurutnya, ketaatan dan penghormatan KH. Hasyim Asy'ari kepada gurunya menjadi salah satu teladan bagaimana seorang santri menjaga adab dalam menuntut ilmu hingga akhirnya menjadi sosok yang mulia dan pemimpin umat.

Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan seorang penuntut ilmu tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan dan banyaknya pengetahuan yang diperoleh, tetapi juga oleh keberkahan ilmu yang lahir dari adab, penghormatan, dan ketulusan kepada guru.

Sementara itu, Kepala SMA Negeri 1 Lenteng, Firdausi, S.Pd., M.Pd., berharap kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW dapat menjadi momentum bagi seluruh warga sekolah untuk melakukan refleksi terhadap sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Ia berharap nilai-nilai keteladanan Nabi Muhammad SAW tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi dapat tercermin dalam pelaksanaan tugas maupun proses pembelajaran di sekolah.

“Melalui kegiatan Maulid ini, kami berharap kita dapat merefleksikan diri dan sikap kita, baik dalam melaksanakan tugas maupun saat belajar di sekolah, agar tercermin sikap dan perilaku Nabi Muhammad SAW yang menjadi teladan bagi kita semua,” harapnya.

Peringatan Maulid Nabi yang digelar di auditorium SMA Negeri 1 Lenteng tersebut tentu bukan sekadar kegiatan mengenang kelahiran Rasulullah SAW, melainkan menjadi momentum untuk memperkuat kecintaan kepada Nabi, memperbaiki akhlak, serta menghidupkan kembali adab kepada guru. Dengan demikian, keteladanan Rasulullah SAW dapat diwujudkan secara nyata dalam kehidupan, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat.(mam/admin)


Bagikan ke:

Apa Reaksi Anda?

0


Komentar (0)

Tambah Komentar

Agenda Terbaru
Prestasi Terbaru