Menyemai Budaya Positif di Sekolah
(Penerapan Budaya Positif melalui Keyakinan Kelas,Ice Breaking dan Pengimbasan)
Oleh
Imam Suhairi
(CGP -V Kab.Sumenep)
Saat Presentasi Pengimbasan Budaya Positif
A. Latar Belakang
Sekolah sebagai tempat persemaian bagi murid-murid untuk mengembangkan potensi dan nilai-nilai kebajikan. Keberadaan murid-murid dengan segala keunikannya menjadi modal dan sekaligus potensi positif bagi penumbuhan nilai-nilai positif yang sifatnya universal. Begitupula, sekolah mempunyai peran utama, khususnya dalam mendukung penumbuhan nilai-nilai kebajikan. Maka kehadiran sekolah harus menjadi tempat yang nyaman bagi warganya dalam mewujudkan cita-cita tersebut.
Harapan berikutnya adalah nilai-nilai kebajikan yang diyakini bersama seluruh warga sekolah akan menginternalisasi dalam diri warga sekolah. Nilai-nilai kebajikan yang telah menginternalisasi akan menjadi perilaku positif warga sekolah. Irama perilaku yang telah menjadi pembiasaan dan berulang-ulang dengan penuh kesadaran individu warga sekolah akan membentuk budaya positif di sekolah.
Memulai idealitas tersebut di sekolah harus dimulai dari merumuskan keyakinan bersama tentang nilai-nilai kebajikan. Nilai-nilai kebajikan dapat bersumber dari manapun. Nilai-nilai ini merupakan ‘payung besar’ dari sikap dan perilaku kita, atau nilai-nilai ini merupakan fondasi kita berperilaku. Nilai[1]nilai kebajikan adalah sifat-sifat positif manusia yang merupakan tujuan mulia yang ingin dicapai setiap individu. Dalam konteks ini, nilai-nilai kebajikan yang ingin dicapai oleh setiap anak Indonesia yang kita kenal dengan Profil Pelajar Pancasila. Dengan demikian, penerapan budaya positif di sekolah merupakan tanggung jawab bersama seluruh warga sekolah, mulai pimpinan sekolah, tenaga pendidik dan kependidikan, murid-murid dan orang tua serta masyarakat.
Selama ini penerapan budaya positif di sekolah masih belum nampak dan masih belum maksimal dilakukan. Belum ada pergerakan yang memicu berlangsungnya penerapan budaya positif pada konteks riel dan konsisten. Karena tidak melangkah melalui rumusan yang ideal, maka produkpun hanya lebih banyak bersifat pemenuhan administratif.
Diperlu ada langkah-langkah perubahan yang harus dilakukan. Dimulai dengan perubahan paradigma tentang murid-murid dan strategi dalam menerapkan disiplin positif bagi murid-murid. Perubahan paradigma yang dimaksud adalah perubahan cara pandang dan berpikir tentang sekolah dan murid-murid yang harus selalu mendapat keberpihakan maksimal. Dalam konteks ini, Stephen R. Covey (Principle-Centered Leadership, 1991 dalam Modul 1.4 Pendidikan Guru Penggerak) mengatakan bahwa,“.bila kita ingin membuat kemajuan perlahan, sedikit-sedikit, ubahlah sikap atau perilaku Anda. Namun bila kita ingin memperbaiki cara-cara utama kita, maka kita perlu mengubah kerangka acuan kita. Ubahlah bagaimana Anda melihat dunia, bagaimana Anda berpikir tentang manusia, ubahlah paradigma Anda, skema pemahaman dan penjelasan aspek-aspek tertentu tentang realitas”.
Lebih jauh tokoh Pendidikan kita Ki Hajar Dewantara secara eksplisit mengatakan untuk menerapkan disiplin positif “dimana ada kemerdekaan, disitulah harus ada disiplin yang kuat. Sungguhpun disiplin itu bersifat ‘self discipline’ yaitu kita sendiri yang mewajibkan kita dengan sekeras-kerasnya, tetapi itu sama saja; sebab jikalau kita tidak cakap melakukan self discipline, wajiblah penguasa lain mendisiplin diri kita. Dan peraturan demikian itulah harus ada di dalam suasana yang merdeka”. (Ki Hajar Dewantara, pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka, Cetakan Kelima, 2013, Halaman 470)
Harapan ke depan adalah menciptakan murid-murid yang memiliki disiplin diri sehingga mereka bisa berperilaku dengan mengacu pada nilai-nilai kebajikan universal dan memiliki motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik. Artinya ada kesadaran diri untuk berpikir dan berperilaku sesuai yang diyakini Bersama. Maka, aksi nyata perubahan dimulai dengan penerapan keyakinan kelas, penciptaan motivasi belajar dengan ice breaking dan pengimbasan bagi warga sekolah
B. Tujuan
Tujuan penerapan budaya positif di sekolah adalah :
C. Tolak Ukur
Dari tiga penerapan budaya positif di sekolah, khususnya di SMA Negeri 1 Lenteng, tolak ukur yang dapat dilihat adalah
D. Linimasa Tindakan
1. Menyusun rencana aksi nyata dan melaporkan serta mendiskusikan dengan kepala sekolah.
Hal ini dilakukan untuk mendapatkan kesepahaman bersama dengan pimpinan sekolah sekaligus izin untuk menerapkan aksi nyata perubahan. Dalam konteks ini dipaparkan tentang Langkah-langkah aksi yang akan dilakukan sebagai wujud dari perubahan dan praktik positif. Tentu meyakinkan pimpinan sekolah agar perubahan ini adalah sebuah keniscayaan yang harus dilakukan secara Bersama-sama seluruh warga sekolah. Kegiatan ini dilaksanakan pada awal pekan keempat Bulan Agustus 2022. Langkah aksi nyata dimulai dari :
Saat berkonsultasi dengan Kepala Sekolah dan Rekan Sejawat
2. Membuat kesepakatan kelas dengan murid-murid
Aksi nyata dengan membuat kesepakatan kelas memang tidak begitu asing terdengar dalam benak guru dan rekan sejawat. Namun, tindakan ini terlewati begitu saja dalam praktik pembelajaran dan interaksi kelas. Tidak jarang, guru melakukan treatment bagi murid-murid yang dianggap bermasalah bersifat subjektif dan sesuai dengan anggapannya sendiri, tanpa dasar dan tanpa melalui keyakinan Bersama.
Membuat kesepakatan kelas dapat dilakukan dengan mencatatkan curah pendapat dari murid-murid akan keinginan mereka dalam kelas untuk dirumuskan menjadi keyakinan kelas secara Bersama-sama. Bentuk pelaksanaan dapat berupa hal sederhana, yakni mencatat di papan tulis atau menuliskan di kertas tempel di depan kelas atau melalui aplikasi online “padlet””.
Murid-murid antusias dalam merumuskan keinginan mereka, yang selama ini mungkin belum pernah dirasakan dalam suasana eksplorasi pikiran merdeka mereka. Kegiatan ini dilakukan saat awal pembelajaran, Hari Senin, 23 Agustus dan 26 Agustus 2022.
3. Menciptakan pembelajaran di kelas menyenangkan dan penuh motivasi dengan ice breaking Dengan melaksanakan ïce breaking’saat pembelajaran, murid-murid termotivasi dan selalu ceria serta bersemangat dalam belajar mereka. Ini dianggap sebagai salah satu terapi “ngantuk”di kelas saat pembelajaran. Berbagai bentuk permainan bisa dilakukan. Langkah -langkah permainan dalam ice breaking, murid-murid dapat melihat dalam site pembelajaran yang membantu mereka dalam belajar pada saat ditayangkan di kelas. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 23 Agustus 2022 dan 25 Agustus 2022 saat pembelajaran di kelas XII MIPA
4. Pengimbasan Penerapan Budaya Positif pada Rekan Sejawat Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 24 Agustus 2022 yang melibatkan kelompok Calon Guru Penggerak Kelas A. di SMA Negeri 1 Lenteng kepada rekan guru-guru SMA Negeri 1 Lenteng yang berjumlah sekitar 25 orang.
Dipaparkan materi mulai dari Disiplin Positif dan Kebajikan Universal, Teori motivasi, hukuman dan penghargaan, Keyakinan Kelas, Kebutuhan Dasar Manusia, posisi kontrol, dan segitiga restitusi. Kegiatan ini dilakukan dengan sistem panel, setiap pemateri yang terdiri dari enam calon guru penggerak, memaparkan satu materi dalam budaya positif.
Materi yang sempat penulis paparkan adalah keyakinan kelas. Peserta diarahkan pada pemahaman antara peraturan dan nilai kebijakan yang menjadi keyakinan dan diarahkan pada pembentukan aksi nyata membuat kesepakatan kelas. Penulis telah melakukan praktik nyata di kelas, sehingga dapat dengan mudah memberikan gambaran dan contoh hasil praktik kesepakatan kelas.
E, Dukungan yang Dibutuhkan
Dalam melakukan praktik nyata di sekolah, tentu membutuhkan dukungan berupa apapun yang berhubungan dengan target tercapainya tujuan, baik berupa sarana dan prasarana serta dukungan moral dan material.
Aksi nyata yang dilakukan membutuhkan dukungan dari :
F. Catatan Reflektif
Penerapan aksi nyata yang dilakukan adalah langkah awal dan dianggap sebagai stimulus bagi penulis dan harapan besar bagi warga sekolah untuk melakukan revolusi paradigma perubahan. Ini adalah pengantar awal yang tentu jikalau ada goodwill dari pimpinan dan warga sekolah, secara simultan dapat dirumuskan secara Bersama konsep penerapan budaya positif yang lebih aktual dan membumi.
Dalam konteks itu, amat banyak bidang dan bentuk garapan penerapan budaya positif yang dapat dikembangkan di sekolah. Sekolah tempat pengabdian terbaik bagi para guru hebat dan selalu berkomitmen untuk berkolaborasi melakukan perubahan positif.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini